Pemerintah tengah melakukan transformasi besar dalam struktur industri kelapa sawit nasional. Menteri Koperasi, Ferry Juliantono, mengungkapkan bahwa Presiden Prabowo Subianto telah memberikan arahan tegas agar koperasi menjadi aktor utama dalam rantai nilai industri sawit, mulai dari pengelolaan perkebunan, pengolahan minyak sawit mentah (CPO), hingga pengembangan produk turunan.

Langkah ini diambil sebagai respons atas dominasi sektor swasta yang selama ini menguasai hampir seluruh lini bisnis sawit. Menurut Ferry, pelibatan koperasi diharapkan mampu menghapus ironi di mana petani sawit justru mengalami kesulitan mendapatkan minyak goreng. Koperasi diposisikan sebagai instrumen vital untuk memastikan masyarakat mendapatkan nilai tambah yang lebih besar serta menciptakan distribusi ekonomi yang merata.

Sebagai wujud implementasi, Kementerian Koperasi telah menjalin kerja sama strategis dengan PT Agrinas Palma Nusantara (Persero). Nota kesepahaman ini mencakup pendampingan manajemen, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, hingga keterlibatan koperasi dalam pengelolaan lahan plasma. Sinergi ini bertujuan membangun ekosistem perkebunan yang profesional dan berdaya saing.

Sebagai proyek percontohan, pemerintah akan meresmikan pabrik CPO berbasis koperasi di Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, dalam waktu dekat. Fasilitas dengan kapasitas produksi 60 ton per jam di atas lahan seluas 3.100 hektare ini diharapkan menjadi model pengembangan usaha serupa di daerah lain.

Ferry menegaskan bahwa inisiatif ini tidak berhenti pada komoditas sawit. Ke depannya, Kementerian Koperasi juga berencana memperluas model bisnis kerakyatan ini pada komoditas strategis lainnya, seperti jagung, kedelai, dan singkong, guna memperkuat kemandirian ekonomi nasional berbasis koperasi.