Eropa kini tengah menghadapi fenomena cuaca ekstrem dengan suhu yang melonjak hingga melampaui 40 derajat Celcius. Ironisnya, di tengah kondisi darurat ini, mayoritas hunian di Benua Biru tidak dilengkapi dengan fasilitas pendingin ruangan (AC). Kondisi tersebut menyebabkan berbagai sektor publik, mulai dari institusi pendidikan hingga layanan transportasi, mengalami gangguan operasional yang signifikan akibat infrastruktur yang tidak dirancang untuk menangkal panas.
Secara historis, masyarakat Eropa memang jarang menggunakan AC. Faktor kenyamanan bukanlah satu-satunya alasan, melainkan juga kekhawatiran terhadap polusi suara, pemborosan energi, serta terjaganya estetika bangunan kuno. Banyak pemerintah kota, seperti Paris dan London, bahkan memberlakukan regulasi ketat bagi penghuni apartemen yang ingin memasang perangkat pendingin karena dianggap dapat merusak fasad bangunan dan memperburuk emisi karbon di area perkotaan.
Namun, perubahan iklim yang terjadi di Eropa berlangsung lebih cepat dibandingkan rata-rata global. Data menunjukkan suhu di wilayah tersebut telah meningkat sekitar 2,5 derajat Celcius dibandingkan era praindustri. Hal ini menciptakan dilema baru: di satu sisi, penggunaan AC dianggap sebagai solusi paling efektif untuk menekan risiko kesehatan selama gelombang panas, namun di sisi lain, hal tersebut dianggap kontradiktif dengan komitmen keberlanjutan lingkungan.
Kini, paradigma mulai bergeser seiring dengan meningkatnya angka kematian akibat cuaca panas yang melampaui statistik di wilayah lain seperti Amerika Serikat. Meski perdebatan mengenai dampak lingkungan tetap mengemuka, kebutuhan untuk melindungi masyarakat dari suhu ekstrem memaksa pemerintah Eropa mulai mempertimbangkan ulang kebijakan penggunaan pendingin ruangan, khususnya di fasilitas vital seperti rumah sakit dan sekolah.