Praktisi kopi sekaligus pengusaha, Faizal, menegaskan pentingnya integrasi menyeluruh dalam rantai industri kopi nasional. Dalam Bincang Ekonomi Daerah yang dihelat di Makassar, ia menyoroti bahwa masa depan industri kopi Indonesia tidak lagi sekadar bergantung pada volume produksi, melainkan pada kemampuan menciptakan nilai tambah melalui inovasi teknologi dan strategi pemasaran yang matang.

Faizal membagikan pengalaman suksesnya dalam proyek hilirisasi di Desa Baderan, Situbondo. Melalui penerapan teknologi fermentasi yang dikembangkan bersama Universitas Hasanuddin, kualitas kopi lokal berhasil ditingkatkan secara signifikan. Langkah ini terbukti efektif mendongkrak harga jual di tingkat petani hingga mencapai Rp50.000 per kilogram, membuktikan bahwa sains memiliki peran vital dalam meningkatkan daya saing komoditas.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa produk berkualitas harus didukung dengan identitas merek yang kuat. Menurut Faizal, pelaku usaha kopi di Indonesia perlu beralih dari sekadar menjual bahan mentah menjadi penyedia produk premium. Hal ini mencakup estetika kemasan, penceritaan (storytelling) merek, serta pemahaman mendalam terhadap ekspektasi pasar kelas atas agar produk memiliki nilai emosional dan ekonomi yang tinggi.

Terkait ekspansi ke pasar internasional, Faizal menyoroti minimnya ketersediaan data intelijen pasar (market intelligence). Ia mendorong perlunya kolaborasi yang lebih erat dengan para diplomat di luar negeri untuk memetakan peluang, harga, dan preferensi konsumen global. Tanpa akses data yang akurat, pengusaha lokal akan kesulitan menembus pasar ekspor secara berkelanjutan.

Sebagai solusi, Faizal mengusulkan tiga langkah strategis: mereplikasi model hilirisasi berbasis riset, menjembatani kolaborasi antara inovator teknologi dengan pengusaha muda, serta memperkuat diplomasi ekonomi internasional. Sinergi antara pemerintah, akademisi, dan sektor swasta diyakini menjadi kunci untuk membentuk ekosistem *specialty coffee* yang tangguh dan mampu menyejahterakan para petani di seluruh pelosok negeri.