Nama Sudono Salim atau Liem Sioe Liong merupakan figur sentral dalam sejarah ekonomi Indonesia. Sebagai pengusaha yang merintis karier dari suplai logistik militer di masa perang kemerdekaan, ia berhasil membangun hubungan strategis dengan Soeharto. Relasi simbiosis ini menjadi pondasi bagi pertumbuhan Salim Group yang mendominasi berbagai sektor ekonomi nasional selama tiga dekade di bawah bayang-bayang kekuasaan Orde Baru.
Namun, kedekatan dengan pusat kekuasaan menjadi pedang bermata dua. Ketika krisis ekonomi menghantam Indonesia pada 1998, sentimen publik terhadap kroni Soeharto memuncak. Sudono Salim, sebagai sosok yang paling diidentikkan dengan kedekatan tersebut, menjadi sasaran utama kemarahan massa. Puncaknya, pada kerusuhan rasial 13-14 Mei 1998, aset-aset berharga milik keluarga Salim, termasuk kediaman pribadi dan ratusan cabang Bank Central Asia (BCA), menjadi target penjarahan serta pembakaran.
Anthony Salim, yang saat itu berada di Jakarta, terpaksa menyaksikan hancurnya aset keluarga demi menghindari pertumpahan darah. Kerugian tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga sistemik. BCA, yang menjadi pilar perbankan kerajaan bisnis Salim, akhirnya harus diserahkan kepada pemerintah melalui Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) karena krisis likuiditas yang tak tertolong pasca-kerusuhan dan lengsernya Soeharto.
Peristiwa kelam tahun 1998 menjadi titik balik drastis bagi keluarga Salim. Meski sempat kehilangan kendali atas BCA dan mengalami kehancuran di banyak sektor, mereka berhasil bertahan dengan mengandalkan Indofood sebagai tulang punggung bisnis. Setelah dua dekade lebih berlalu, Salim Group perlahan bangkit kembali dan mendiversifikasi bisnisnya ke sektor-sektor strategis seperti energi dan konstruksi, membuktikan resiliensi keluarga pengusaha tersebut pasca-badai krisis politik yang nyaris meruntuhkan imperium mereka.