Penyanyi ternama Dua Lipa menunjukkan kepeduliannya terhadap dunia literasi dengan langkah yang progresif. Melalui platform Service95, ia resmi mendirikan sebuah ruang khusus bernama Manifesto Library yang berlokasi di dalam toko buku bersejarah, Livraria Lello, di Porto, Portugal.

Perpustakaan ini bukanlah ruang baca biasa, melainkan sebuah kurasi berani yang menampung 100 buku dengan latar belakang sejarah kelam, yakni karya-karya yang sempat dilarang beredar, dihapus dari kurikulum pendidikan, atau disingkirkan dari sistem perpustakaan umum. Inisiatif ini menjadi perwujudan fisik dari komitmen sang musisi dalam memperjuangkan kebebasan berpikir.

Manifesto Library disusun ke dalam empat pilar tematis utama, yaitu kekuasaan, kendali, suara, dan ingatan. Melalui tema-tema tersebut, Dua Lipa mengajak publik untuk menelaah kembali narasi yang selama ini dibungkam oleh otoritas atau sistem yang represif. Koleksi yang dihadirkan mencakup karya-karya klasik hingga kontemporer, seperti Nineteen Eighty-Four karya George Orwell hingga The Handmaid's Tale dari Margaret Atwood.

Dalam pernyataannya, Dua Lipa menegaskan bahwa perpustakaan ini dihadirkan sebagai tempat suci bagi para penulis yang memiliki keberanian untuk menantang kekuasaan. Ia berharap Manifesto Library menjadi ruang terbuka bagi setiap pembaca untuk melakukan eksplorasi intelektual tanpa rasa takut, sekaligus menggarisbawahi bahwa tindakan membaca dan mendiskusikan sebuah buku adalah langkah yang kuat untuk menjaga kebebasan berpikir.