Pos Kesehatan Komune Long Coc kini menjadi tulang punggung layanan medis bagi lebih dari 8.700 penduduk yang mayoritas merupakan etnis minoritas. Melalui integrasi tiga pos kesehatan—Long Coc, Vinh Tien, dan Tam Thanh—fasilitas ini mengelola area seluas 67 kilometer persegi dengan medan berbukit yang menantang. Reorganisasi ini terbukti efektif dalam memusatkan sumber daya manusia, yang kini diperkuat oleh 16 tenaga profesional termasuk dokter umum, bidan, dan apoteker yang ditempatkan secara fleksibel untuk menjaga aksesibilitas layanan.
Di tengah tantangan geografis dan akses transportasi yang sering terputus saat musim hujan, Pos Kesehatan Long Coc telah mengadopsi transformasi digital sebagai strategi utama. Sepanjang semester pertama tahun 2026, seluruh proses pemeriksaan medis telah terintegrasi dengan kartu identitas berbasis chip dan aplikasi VNeID. Langkah ini tidak hanya mempermudah administrasi asuransi kesehatan, tetapi juga menjadi fondasi bagi penerapan rekam medis elektronik yang lebih akurat dan efisien bagi masyarakat setempat.
Hasil nyata dari efektivitas koordinasi ini terlihat pada keberhasilan program kesehatan masyarakat. Seluruh balita di wilayah tersebut telah terpantau grafik pertumbuhannya, sementara cakupan pemberian vitamin A mencapai target 100%. Selain itu, pengendalian penyakit menular seperti demam berdarah dan campak terlaksana dengan baik melalui pengawasan epidemiologi yang proaktif, yang berhasil mencegah munculnya wabah di tingkat desa.
Namun, perjuangan para tenaga kesehatan masih dibayangi oleh keterbatasan infrastruktur yang kian memburuk. Bangunan pos kesehatan yang mengalami kerusakan atap serta dinding lembap, dipadukan dengan sistem pengelolaan limbah yang belum memadai, menjadi tantangan tersendiri. Keterbatasan daftar obat-obatan yang ditanggung asuransi di tingkat desa juga memaksa pasien dengan penyakit kronis untuk menempuh perjalanan jauh ke pusat layanan yang lebih tinggi.
Direktur Pos Kesehatan, Ha Hong Uy, menegaskan komitmen pihaknya untuk terus meningkatkan kualitas layanan melalui penguatan jaringan akar rumput dan pengembangan data kesehatan digital. Meski demikian, ia mengharapkan adanya intervensi dari otoritas terkait dalam hal pembaruan fasilitas fisik, penambahan variasi obat asuransi, serta pelatihan berkelanjutan agar layanan kesehatan di wilayah terpencil ini dapat terus berfungsi sebagai garda terdepan pelindung kesehatan masyarakat.