Memasuki hari keempat pasca-kebakaran di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, kondisi lingkungan di sekitar lokasi masih terpantau kritis. Meski kobaran api utama telah berhasil dipadamkan, kepulan asap pekat tetap membumbung dari tumpukan sampah, yang memicu penurunan drastis pada kualitas udara di kawasan tersebut.

Deputi Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) Kementerian Lingkungan Hidup, Rasio Ridho Sani, mengungkapkan bahwa asap yang dihasilkan dari pembakaran sampah plastik mengandung senyawa berbahaya seperti sulfur oksida (SOx) dan nitrogen oksida (NOx). Pihaknya mengimbau masyarakat setempat untuk senantiasa menggunakan masker demi meminimalisir risiko paparan zat berbahaya tersebut.

Dampak kesehatan dari insiden ini telah dirasakan oleh warga sekitar. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang, tercatat sebanyak 154 orang mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Kelompok rentan seperti balita dan ibu hamil menjadi yang paling terdampak, dengan satu orang ibu hamil harus dirujuk ke rumah sakit akibat komplikasi pernapasan yang cukup serius.

Di sisi lain, BPBD Kabupaten Tangerang menjelaskan bahwa asap yang terus muncul disebabkan oleh keberadaan gas metana yang terperangkap di dalam timbunan sampah. Kondisi ini membuat bara api tetap aktif di bawah permukaan, sehingga risiko munculnya kembali kobaran api tetap tinggi, terutama saat cuaca berangin. Hingga saat ini, diperkirakan sekitar 15 hingga 18 hektare atau 80 persen dari total luas area TPA Jatiwaringin telah terdampak oleh kebakaran tersebut.