Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kini tengah tancap gas mengonversi wajah kota dari sekadar pusat bisnis menjadi destinasi wisata olahraga atau sport tourism yang kompetitif. Strategi ini dirancang untuk menciptakan ekosistem terpadu antara kegiatan fisik, sektor pariwisata, hingga pemberdayaan ekonomi kreatif dan budaya lokal.
Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) DKI Jakarta, Andri Yansyah, menegaskan bahwa inisiatif ini bukan sekadar mengejar prestasi atletik semata. Melalui rangkaian agenda olahraga yang berkesinambungan, pemerintah berupaya menciptakan perputaran ekonomi yang lebih luas. Dampak domino dari setiap event diharapkan mampu menyokong sektor perhotelan, transportasi, kuliner, hingga pelaku UMKM lokal.
Modal utama Jakarta dalam ambisi ini adalah infrastruktur kelas dunia. Keberadaan fasilitas seperti Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta International Stadium (JIS), serta integrasi moda transportasi publik yang semakin masif, menjadi keunggulan komparatif. Kawasan ikonik seperti Kota Tua dan Kepulauan Seribu juga disiapkan sebagai ruang pendukung untuk menarik partisipasi publik dalam berbagai skala kegiatan, mulai dari level pelajar hingga kejuaraan internasional.
Menanggapi langkah tersebut, pakar pariwisata dari Universitas Airlangga, Novianto Edi Suharno, memberikan apresiasi. Menurutnya, langkah ini merupakan strategi cerdas mengingat profil Jakarta sebagai kota metropolitan yang mengandalkan wisata buatan. Wisatawan yang hadir dalam ajang olahraga cenderung memiliki durasi tinggal lebih lama dan daya beli yang lebih tinggi dibandingkan wisatawan konvensional.
Kendati demikian, para ahli mengingatkan bahwa keberhasilan visi ini bergantung pada manajemen yang profesional dan berkelanjutan. Jakarta disarankan untuk memiliki kalender event yang pasti agar para wisatawan dapat merencanakan kunjungan jauh hari. Selain itu, optimalisasi fasilitas pendukung seperti aksesibilitas trotoar, jalur sepeda, dan pembentukan lembaga khusus seperti Jakarta Sport Commission dinilai krusial untuk menjaga ritme penyelenggaraan agar tidak bersifat musiman.
Pengembangan ini sekaligus menjadi bagian dari upaya besar Pemprov DKI dalam menyambut hari jadi kota ke-500 pada tahun 2027 mendatang. Dengan orkestrasi manajemen yang matang dan kolaborasi multipihak, Jakarta diproyeksikan mampu berdiri sejajar dengan kota-kota besar di Asia Tenggara sebagai episentrum baru bagi pegiat wisata olahraga internasional.