Pasar saham di kawasan Asia diprediksi akan mengawali perdagangan hari ini di zona merah untuk sesi kedua secara beruntun. Tekanan jual ini dipicu oleh langkah para investor yang mulai melakukan rotasi portofolio dengan melepas saham-saham di sektor teknologi, menyusul kekhawatiran bahwa reli panjang yang didorong oleh euforia kecerdasan buatan (AI) telah mencapai titik jenuh secara valuasi.

Indikator awal menunjukkan pelemahan pada kontrak berjangka indeks saham di Jepang dan Korea Selatan, sementara bursa Hong Kong cenderung bergerak stagnan. Tren negatif ini juga membayangi pasar Amerika Serikat, di mana indeks Nasdaq 100 sebelumnya telah terkoreksi sebesar 1,6 persen. Penurunan signifikan bahkan terjadi pada Indeks Semikonduktor Philadelphia yang merosot hingga 5,4 persen, menandai awal kuartal yang menantang bagi perusahaan di sektor ini.

Di balik koreksi tersebut, terdapat ketidakpastian mengenai keberlanjutan investasi masif dalam infrastruktur AI. Kabar mengenai potensi kolaborasi antara startup Anthropic PBC dan Samsung Electronics untuk pengembangan cip khusus justru mempertegas narasi persaingan rantai pasok yang semakin ketat. Investor kini mulai menimbang kembali apakah keuntungan perusahaan di masa depan mampu mengimbangi biaya investasi yang terus membengkak dan peta persaingan pasar yang semakin padat.

Analis pasar dari Navellier & Associates, Louis Navellier, menyoroti adanya sikap kehati-hatian di kalangan pelaku pasar. Menurutnya, potensi mahalnya biaya memori serta penentuan harga token perangkat lunak AI yang lebih kompetitif—termasuk dari produk asal Tiongkok—mendorong investor untuk lebih selektif. Optimisme jangka panjang terhadap teknologi AI memang tetap terjaga, namun pasar kini menuntut bukti konkret dari sisi efisiensi dan profitabilitas di balik proyek-proyek pusat data yang saat ini tengah digencarkan.