Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat melalui Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) kembali memperluas jangkauan layanan kesehatan masyarakat. Kali ini, sinergi dilakukan bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Teluk Wondama dan Puskesmas Rasiei untuk melaksanakan program pelayanan kesehatan terintegrasi bagi warga Kampung Rasiei, Distrik Rasiei, pada Kamis (2/7/2026).

Layanan yang diberikan mencakup serangkaian pemeriksaan menyeluruh, mulai dari skrining penyakit menular seperti HIV/AIDS, malaria, kusta, hingga hepatitis B pada ibu hamil. Selain itu, petugas juga melakukan pemeriksaan penyakit tidak menular (PTM) seperti hipertensi, diabetes melitus, kolesterol, asam urat, hingga deteksi dini kanker serviks dan payudara bagi kaum perempuan.

Kepala Dinas Kesehatan Papua Barat, dr. Alwan Rimosan, menegaskan bahwa strategi jemput bola ini merupakan langkah krusial untuk memetakan kondisi kesehatan masyarakat di tingkat kampung. Menurutnya, intervensi yang cepat melalui deteksi dini jauh lebih efektif dalam menekan risiko komplikasi penyakit dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara jangka panjang.

Sebanyak 79 warga Orang Asli Papua (OAP) tercatat mengikuti pemeriksaan ini. Seluruh data hasil skrining nantinya akan direkapitulasi oleh tim medis sebagai acuan utama dalam menentukan kebijakan intervensi kesehatan yang lebih spesifik dan tepat sasaran bagi warga di wilayah tersebut.

Selain pemeriksaan klinis, tim kesehatan juga memberikan edukasi intensif mengenai pola hidup sehat. Kepala Bidang P2P Dinas Kesehatan Papua Barat, Frans Abidondifu, memberikan peringatan keras terkait dampak buruk kebiasaan merokok dan konsumsi pinang yang berlebihan. Ia menyoroti bahwa residu zat kimia dari rokok serta dampak konsumsi pinang dengan kapur dapat memicu gangguan kesehatan serius, mulai dari penyakit pernapasan hingga risiko stunting pada anak.

Melalui kegiatan ini, pemerintah daerah berharap masyarakat dapat lebih peduli terhadap kesehatan diri dan keluarga. Edukasi mengenai bahaya paparan asap rokok di lingkungan rumah serta dampak jangka panjang penggunaan pinang diharapkan dapat mendorong perubahan perilaku masyarakat demi terciptanya generasi Papua yang lebih sehat dan produktif.