Sektor usaha ekspor di Vietnam tengah menghadapi tantangan berat akibat lonjakan biaya logistik yang tidak terkendali. Para pelaku bisnis melaporkan kenaikan tarif pengiriman barang hingga hampir 200 persen, yang tidak hanya menggerus margin keuntungan, tetapi juga mengancam kelangsungan operasional perusahaan di tengah pasar global yang semakin ketat.
Nguyen Dinh Tung, Ketua Vina T&T Group, menuturkan bahwa biaya pengiriman peti kemas berpendingin melonjak dari 2.800 USD menjadi 7.800 USD. Kondisi ini diperburuk dengan durasi pengiriman yang membengkak dua kali lipat akibat pengalihan rute. Ketidakmampuan menegosiasikan ulang harga dengan mitra asing membuat banyak pengusaha harus menelan kerugian besar, bahkan berada di ambang kebangkrutan.
Di sisi lain, Presiden Asosiasi Logistik dan Pelabuhan Kota Ho Chi Minh, Dang Minh Phuong, menekankan bahwa tekanan ini dipicu oleh ketidakpastian geopolitik yang mendongkrak harga bahan bakar serta minimnya efisiensi rantai pasok domestik. Banyak perusahaan lokal masih terjebak dalam pengelolaan logistik mandiri yang tidak optimal dibandingkan dengan perusahaan asing yang telah menggunakan layanan profesional pihak ketiga.
Menanggapi situasi kritis ini, pemerintah melalui Departemen Perindustrian dan Perdagangan Kota Ho Chi Minh berkomitmen melakukan perombakan besar-besaran. Fokus utama diarahkan pada pembangunan infrastruktur transportasi multimodal, termasuk percepatan proyek jalan tol strategis dan pengembangan jalur kereta api yang menghubungkan pusat industri ke pelabuhan internasional seperti Cai Mep - Thi Vai.
Selain pembangunan fisik, langkah transformasi digital dan penerapan logistik ramah lingkungan menjadi prioritas untuk menekan biaya operasional yang saat ini masih mencapai 17-18 persen dari PDB nasional. Pemerintah daerah pun tengah mengusulkan kebijakan mekanisme zona perdagangan bebas dan pusat logistik terpadu guna memperkuat daya saing bisnis lokal dalam rantai pasok global.