Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat lonjakan angka kematian yang mengkhawatirkan di Eropa akibat gelombang panas ekstrem yang melanda kawasan tersebut sejak 21 Juni lalu. Hingga saat ini, lebih dari 1.300 jiwa dilaporkan meninggal dunia, dengan Prancis dan Spanyol menjadi negara yang paling terdampak oleh cuaca yang mematikan ini.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa fenomena cuaca ini dipicu oleh 'kubah panas' (heat dome). Dalam kondisi ini, massa udara terkompresi dan terperangkap di suatu wilayah akibat pola cuaca omega block, yang menghambat pembentukan awan serta menyebabkan suhu melonjak drastis secara terus-menerus selama berhari-hari.

Tingginya angka kematian di Eropa tidak hanya disebabkan oleh intensitas panas, tetapi juga faktor kerentanan infrastruktur. Berbeda dengan wilayah lain, mayoritas bangunan di Eropa dirancang untuk menahan suhu dingin guna menghadapi musim dingin yang panjang. Kurangnya fasilitas pendingin udara (AC) di hunian warga, yang diperkirakan hanya tersedia di sekitar 19% rumah, membuat kediaman penduduk justru berubah menjadi 'oven' saat suhu luar mencapai puncaknya.

Selain faktor teknis bangunan, demografi penduduk juga menjadi perhatian serius. Sekitar 22% populasi Uni Eropa merupakan kelompok lansia berusia di atas 65 tahun yang memiliki kerentanan lebih tinggi terhadap serangan panas fatal (heatstroke). Situasi ini diperparah oleh kelembapan udara dari perairan sekitar yang membuat suhu terasa jauh lebih panas dari yang tertera pada termometer.

Kondisi kian memburuk karena suhu pada malam hari cenderung tetap tinggi, berkisar antara 26 hingga 28 derajat Celsius di beberapa wilayah seperti Prancis. Hal ini merampas kesempatan vital bagi tubuh manusia untuk melakukan pendinginan alami, yang akhirnya meningkatkan risiko kesehatan secara signifikan bagi masyarakat luas.