Pemerintah Amerika Serikat dilaporkan telah mengambil langkah preventif dengan menyampaikan peringatan kepada Teheran terkait adanya potensi rencana pembunuhan oleh Israel terhadap sejumlah pejabat tinggi Iran. Berdasarkan laporan dari New York Times, peringatan ini disampaikan melalui negara-negara sekutu di Timur Tengah agar jalur komunikasi diplomatik tetap terjaga di tengah tensi yang memanas.

Target utama yang disinyalir menjadi sasaran Israel adalah Menteri Luar Negeri Iran serta Ketua Parlemen, Mohammad Bagher Ghalibaf. Washington khawatir jika rencana tersebut terealisasi, upaya perundingan intensif yang dimediasi oleh Pakistan dan Qatar sejak April lalu akan berujung pada kegagalan total, bahkan berisiko memicu eskalasi konflik militer yang lebih luas di kawasan tersebut.

Salah satu insiden paling genting terjadi pada 12 April lalu, saat pesawat yang membawa Ghalibaf dari Islamabad terpaksa melakukan pendaratan darurat di Mashhad. Keputusan ini diambil setelah intelijen Iran mendeteksi adanya ancaman terhadap keselamatan pesawat tersebut, termasuk laporan mengenai kehadiran dua jet tempur Israel yang diduga memasuki wilayah udara Iran secara tidak sah saat itu.

Sebagai respons atas situasi tersebut, Teheran dikabarkan telah menuntut jaminan keamanan dari Washington agar delegasi diplomatik mereka tidak menjadi target serangan selama proses negosiasi berlangsung. Hingga saat ini, pihak otoritas Amerika Serikat terus mendesak Israel untuk menahan diri demi menghindari destabilisasi lebih lanjut yang dapat merusak upaya perdamaian yang tengah dirintis kedua belah pihak.