Pemerintah Kota Bandung telah menyelesaikan evaluasi satu tahun implementasi program angkot pintar. Secara operasional, layanan transportasi berbasis teknologi ini dinilai berjalan sukses dan memenuhi standar efisiensi yang ditetapkan pemerintah daerah.

Meski menunjukkan capaian performa yang memuaskan, tantangan finansial kini menjadi perhatian serius bagi Pemkot Bandung. Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menyoroti bahwa biaya pengadaan armada listrik untuk angkot pintar mencapai dua kali lipat dibandingkan dengan biaya peremajaan angkot konvensional pada umumnya.

Menanggapi kendala tersebut, Pemkot Bandung kini tengah berkoordinasi intensif dengan Dinas Perhubungan Jawa Barat serta Kementerian Perhubungan. Langkah ini bertujuan untuk merumuskan skema pembiayaan berkelanjutan agar para operator, seperti koperasi angkutan kota Kobutri, Kopamas, dan Kobanter, mampu melakukan transisi armada tanpa terbebani investasi modal yang terlalu berat.

Selain masalah pendanaan, pihak pemerintah juga tengah mematangkan rencana konsolidasi kepemilikan angkot. Proses ini menuntut perhitungan yang cermat karena melibatkan berbagai pihak dengan kepentingan ekonomi yang beragam. Farhan menekankan bahwa keberhasilan integrasi sistem transportasi modern ini mutlak memerlukan model bisnis yang solid dengan dukungan subsidi terpadu dari pemerintah pusat hingga daerah.