Budaya viral telah mengubah cara kita mengonsumsi informasi di media sosial, di mana metrik popularitas seperti jumlah tayangan dan interaksi sering kali menjadi tolok ukur utama sebuah konten dianggap berhasil. Sayangnya, fenomena ini sering kali mengabaikan etika dan dampak sosial, terutama ketika konten yang melibatkan penyandang disabilitas hanya diposisikan sebagai komoditas hiburan semata.

Mengacu pada Teori Framing oleh Robert Entman, media memiliki kekuatan besar dalam menonjolkan aspek tertentu dari sebuah peristiwa. Dalam konteks disabilitas, kreator konten cenderung membingkai keterbatasan fisik atau kondisi unik individu sebagai elemen yang mengundang tawa atau rasa iba. Tanpa disadari, narasi ini membentuk persepsi publik yang memandang penyandang disabilitas bukan sebagai manusia seutuhnya yang memiliki martabat, melainkan sekadar objek tontonan yang menarik perhatian.

Masalah menjadi lebih kompleks saat tawa penonton atau persetujuan subjek video dianggap sebagai justifikasi atas konten tersebut. Padahal, esensi dari sebuah representasi yang etis bukan terletak pada ada atau tidaknya keberatan dari pihak yang direkam, melainkan pada bagaimana martabat individu tersebut dijaga di ruang publik digital. Ketika keterbatasan seseorang dikedepankan demi mendongkrak angka viralitas, maka nilai kemanusiaan mereka perlahan tereduksi.

Masyarakat, sebagai pengguna aktif media sosial, memegang peranan krusial dalam memutus mata rantai eksploitasi ini. Setiap tanda suka dan komentar yang diberikan secara langsung memvalidasi jenis konten yang akan terus diproduksi. Oleh karena itu, sikap kritis menjadi filter penting agar kita tidak sekadar menjadi konsumen pasif yang memberikan panggung bagi konten-konten yang merendahkan martabat orang lain.

Pada akhirnya, upaya membangun ruang digital yang inklusif tidak bertujuan untuk membatasi kreativitas kreator konten. Sebaliknya, hal ini merupakan ajakan bagi kita semua untuk melihat melampaui layar. Dengan mengedepankan empati dan kesadaran bahwa di balik setiap video terdapat individu dengan cerita hidup yang beragam, media sosial dapat bertransformasi menjadi ruang yang lebih menghargai keberagaman dan mempererat ikatan sosial antar sesama.