Selama ini, kerap muncul anggapan bahwa sektor pertanian Indonesia stagnan akibat keengganan petani mengadopsi teknologi modern. Drone penyemprot pestisida, sensor tanah, hingga aplikasi cuaca berbasis kecerdasan buatan seringkali dipandang sebagai solusi yang sia-sia karena petani dianggap masih terlalu tradisional dan enggan beranjak dari cara-cara lama.
Namun, jika ditelisik lebih dalam, kendala sebenarnya justru berakar pada ketimpangan akses. Data BPS tahun 2023 menunjukkan jutaan petani tersebar di wilayah pedesaan yang jangankan teknologi canggih, infrastruktur internet dasar pun masih jauh dari memadai. Banyak wilayah di pelosok Indonesia yang bahkan belum terjangkau sinyal 4G yang stabil, menjadikan aplikasi pertanian berbasis digital sebagai sesuatu yang mustahil untuk diakses.
Selain masalah infrastruktur, aspek finansial menjadi hambatan nyata. Dengan rata-rata kepemilikan lahan di bawah 0,5 hektare, petani kecil beroperasi dengan margin keuntungan yang sangat tipis. Investasi pada gawai canggih, kuota internet, maupun biaya pelatihan digital merupakan pengeluaran yang berisiko bagi mereka, mengingat kesalahan langkah sedikit saja dapat mengancam keberlangsungan ekonomi rumah tangga mereka.
Di balik keterbatasan tersebut, terdapat isu krusial yaitu krisis kepercayaan. Petani memiliki memori kolektif yang panjang terhadap berbagai program mekanisasi maupun intensifikasi pertanian di masa lalu yang kerap kali mangkrak atau meninggalkan ketergantungan pada produk tertentu tanpa pendampingan berkelanjutan. Pendekatan yang sering kali bersifat top-down dari pusat membuat petani merasa solusi yang ditawarkan tidak relevan dengan realitas di lapangan.
Untuk memutus lingkaran kegagalan ini, transformasi pertanian harus dimulai dari pendampingan yang melibatkan petani sebagai subjek utama, bukan sekadar objek kebijakan. Pemerintah dan sektor swasta perlu memastikan bahwa infrastruktur digital dan literasi berjalan beriringan. Inovasi yang paling efektif adalah yang lahir dari kebutuhan spesifik petani, bukan sekadar pemindahan teknologi dari ruang kantor ke lahan sawah tanpa proses adaptasi sosial yang matang.