Budaya 'oshikatsu' atau kegiatan mendukung idola, karakter anime, hingga kreator konten favorit, kini menjelma menjadi kekuatan ekonomi baru yang signifikan di Jepang. Nilai pasar dari fenomena ini diperkirakan mencapai 4,1 triliun yen atau sekitar USD 25 miliar (setara Rp 405 triliun), menjadikannya salah satu sektor ritel dengan pertumbuhan paling menjanjikan di tengah kondisi ekonomi yang menantang.

Bank of Japan (BOJ) turut menyoroti tren ini sebagai penopang konsumsi domestik, terutama di kalangan generasi muda yang aktif dalam ekosistem fandom. Lonjakan antusiasme masyarakat tercermin dari masifnya partisipasi perusahaan dalam Oshikatsu Expo, di mana jumlah peserta melonjak hingga 240 perusahaan, jauh melampaui angka awal yang hanya belasan peserta pada dua tahun lalu.

Kreativitas pelaku industri dalam menjaring pasar penggemar terlihat dari diversifikasi produk yang ditawarkan. Tidak hanya menjual merchandise konvensional seperti lencana atau figur karakter, perusahaan kini merambah ke ranah yang lebih personal, seperti parfum bertema idola hingga layanan pendukung komunitas yang dibangun secara mandiri oleh para penggemar.

Bahkan, perusahaan tradisional yang selama ini bergerak di luar sektor hiburan turut menangkap peluang ini. Katani Co., produsen lembaran emas legendaris, kini beralih memproduksi altar berlapis emas eksklusif bagi penggemar yang ingin memajang foto idola mereka. Langkah ini membuktikan bahwa potensi pasar oshikatsu telah menyentuh berbagai segmen industri di Negeri Sakura.

Kepala Ekonom Pasar Nomura Securities, Kohei Okazaki, menyebutkan bahwa pergeseran demografi dan gaya hidup menjadi pendorong utama. Semakin banyak konsumen Jepang yang memilih mengalihkan alokasi belanja mereka—yang dulunya untuk otomotif atau minuman keras—menuju produk dan pengalaman yang memberikan koneksi emosional dengan idola. Meskipun rata-rata pengeluaran individu sedikit menurun, basis konsumen yang semakin luas justru memperkuat fundamental pasar secara keseluruhan.