Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kembali menyuarakan kekhawatiran serius terkait pengaruh media sosial dan ekosistem digital terhadap kesejahteraan generasi muda. Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menegaskan bahwa lanskap digital saat ini bukanlah ruang yang netral, melainkan sebuah lingkungan yang dirancang secara khusus untuk memengaruhi perilaku dan kesehatan pengguna.
Menurut WHO, sistem algoritma yang diterapkan oleh berbagai platform digital cenderung memprioritaskan keterlibatan pengguna daripada akurasi informasi. Dampaknya, disinformasi kesehatan dapat tersebar luas dengan cepat, yang berpotensi menyesatkan kaum muda dalam mengambil keputusan terkait kesehatan mereka sendiri.
Tedros menekankan pentingnya melibatkan generasi muda dalam perumusan kebijakan digital. Ia menegaskan bahwa kaum muda tidak boleh dipandang sebagai komoditas atau subjek eksperimen pasar. Oleh karena itu, WHO berkomitmen untuk memperkuat riset dan memberikan pedoman kepada negara-negara anggota guna menciptakan ruang digital yang lebih sehat, aman, dan berkeadilan.
Selain masalah algoritma, ancaman keamanan siber juga menjadi perhatian global. Sebelumnya, UNICEF telah mengeluarkan peringatan keras terkait maraknya penyalahgunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk membuat konten *deepfake*. Manipulasi gambar dan audio yang melibatkan jutaan anak muda ini dinilai sebagai tantangan baru yang memerlukan tindakan regulasi yang tegas dari komunitas internasional.