Kebiasaan menetap dalam durasi panjang kini menjadi sorotan dunia medis. Sebuah riset komprehensif yang dipublikasikan dalam jurnal PLOS Medicine pada Juli 2026 menyoroti korelasi kuat antara gaya hidup kurang gerak dengan peningkatan risiko penyakit kanker. Studi ini melibatkan lebih dari 91.000 partisipan dari UK Biobank yang aktivitas fisiknya dipantau secara ketat selama tujuh hari, dengan pengamatan kesehatan berkelanjutan selama 12 tahun.

Dr. Frederick Ho, penulis utama studi dari Universitas Glasgow, menekankan bahwa duduk selama lebih dari 30 menit secara berturut-turut merupakan ambang batas krusial yang berkaitan dengan lonjakan risiko kanker. Data menunjukkan tren mengkhawatirkan di mana setiap tambahan satu jam perilaku duduk tanpa jeda berkontribusi pada kenaikan risiko kematian akibat kanker sebesar 10 persen.

Dari sisi medis, ahli hematologi-onkologi, Dr. David Yashar, menjelaskan bahwa absennya aktivitas fisik memicu ketidakseimbangan hormon dalam tubuh. Kondisi ini secara spesifik menjadi pemicu perkembangan jenis kanker yang sensitif terhadap hormon, termasuk kanker payudara. Durasi yang dihabiskan untuk duduk bukan satu-satunya faktor, melainkan bagaimana waktu tersebut terakumulasi dalam periode yang panjang tanpa ada jeda pergerakan.

Meski demikian, terdapat solusi sederhana bagi masyarakat untuk menekan risiko tersebut. Para peneliti menemukan bahwa mengganti satu jam waktu duduk dengan aktivitas fisik ringan, seperti berjalan kaki singkat, mampu menurunkan risiko kematian akibat kanker hingga 12 persen. Temuan ini menjadi pengingat penting bagi para pekerja kantoran atau individu dengan mobilitas rendah untuk lebih sering menyelingi waktu duduk dengan aktivitas fisik agar kesehatan jangka panjang tetap terjaga.