Wali Kota Tanjungpinang, Lis Darmansyah, secara tegas meminta agar pola pembinaan Posyandu di wilayahnya mengalami transformasi mendasar. Ia menekankan bahwa operasional Posyandu tidak boleh lagi bersifat normatif, melainkan harus bertumpu pada manajemen data yang akurat guna memetakan persoalan riil di tengah masyarakat, seperti stunting, kemiskinan, serta dinamika angka kelahiran dan kematian.

Pernyataan tersebut disampaikan Lis dalam pembukaan Orientasi Pembinaan Posyandu bagi Tenaga Kesehatan Puskesmas di Hotel Aston Tanjungpinang, Senin (6/7). Menurutnya, cakupan layanan Posyandu kini telah meluas melampaui kesehatan ibu dan anak, yakni menjadi layanan kesehatan sepanjang siklus hidup yang bersinggungan langsung dengan berbagai problematika sosial.

Lis menggarisbawahi pentingnya kesinambungan pendataan yang tidak boleh terputus atau diulang dari nol setiap kali pergantian petugas. Sebagai solusi, Pemerintah Kota Tanjungpinang tengah menyiapkan sistem digital terintegrasi yang menghubungkan seluruh Posyandu dengan puskesmas, sehingga riwayat layanan warga dapat terpantau secara real-time dan memudahkan pengambilan kebijakan berbasis bukti.

Selain perbaikan tata kelola data, Lis juga mendorong tenaga kesehatan dan kader untuk meninggalkan pola pelayanan pasif. Ia menginstruksikan pendekatan jemput bola agar masyarakat yang membutuhkan intervensi kesehatan dapat terlayani dengan lebih cepat dan efektif, didukung oleh standar operasional prosedur yang terukur dan daftar periksa yang jelas.

Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkesdalduk KB) Kota Tanjungpinang, Rustam, menambahkan bahwa orientasi ini krusial untuk menyamakan persepsi di kalangan pembina lapangan. Meski transformasi layanan telah mencakup kelompok usia dari remaja hingga lansia, pelaksanaannya masih perlu dioptimalkan. Kegiatan orientasi ini akan berlanjut dengan pembekalan intensif bagi 145 kader Posyandu mulai 14 Juli mendatang guna memastikan standar pelayanan yang seragam di seluruh titik layanan.