PT Samuel Sekuritas Indonesia memproyeksikan bahwa volatilitas pasar modal domestik yang dipicu oleh dinamika indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) mulai menunjukkan tanda-tanda mereda menjelang semester kedua tahun 2026. Penurunan tekanan ini menciptakan celah bagi investor untuk mempertimbangkan valuasi saham domestik yang kembali ke level atraktif.
Namun, Managing Director PT Samuel Tumbuh Bersama, Tae Yong Shim, menekankan agar pelaku pasar tidak lengah terhadap risiko struktural yang masih melekat. Faktor-faktor krusial seperti tingkat transparansi emiten, jumlah saham beredar (free float), dan daya tarik pasar secara umum tetap menjadi poin krusial yang dipantau ketat oleh komite MSCI.
Tae Yong Shim memberikan peringatan khusus terkait risiko penurunan status Indonesia dari pasar negara berkembang (Emerging Market) ke pasar perbatasan (Frontier Market). Potensi downgrade ini dapat memicu aksi pelepasan aset secara masif oleh investor asing jika indikator tata kelola emiten dalam negeri dinilai tidak lagi memenuhi standar global.
Di sisi lain, pemulihan pasar saham juga menghadapi tantangan domestik dari kebijakan moneter Bank Indonesia. Langkah otoritas moneter yang menaikkan suku bunga acuan hingga mencapai 5,75% demi menjaga stabilitas rupiah memberikan tekanan pada kinerja fundamental emiten, terutama di sektor perbankan yang kini terbebani oleh kenaikan biaya dana.
Mencermati kombinasi ketidakpastian tata kelola pasar dan iklim makro yang cenderung restriktif, Samuel Sekuritas menyarankan investor untuk mengadopsi strategi investasi defensif. Langkah ini dinilai lebih bijak dibandingkan mengambil posisi agresif di tengah belum sepenuhnya pulihnya stabilitas pasar modal nasional.