Jakarta menjadi pusat perhatian dunia akademik internasional melalui perhelatan The Pacific Asia Conference on Information Systems (PACIS) 2026. Konferensi yang berlangsung pada Senin (6/7/2026) ini menghadirkan 470 peserta dari 29 negara, menegaskan posisi strategis Indonesia sebagai hub kolaborasi riset di kawasan Asia Pasifik.

Prof. Putu Wuri Handayani dari Universitas Indonesia menekankan bahwa gelaran ini melampaui sekadar forum diskusi ilmiah. Kehadiran fisik para pakar secara langsung dinilai krusial untuk membangun jejaring riset yang lebih konkret, mulai dari kemitraan penelitian lintas institusi hingga pendampingan mahasiswa secara kolaboratif yang berkelanjutan pasca-acara.

Dalam kesempatan yang sama, diskusi mengenai kecerdasan buatan (AI) turut menyoroti sisi sosioteknis. Prof. Juliana Sutanto dari Monash University menegaskan bahwa AI tidak boleh hanya dipandang sebagai alat teknis semata. Ia menekankan perlunya pergeseran paradigma dalam dunia pendidikan, di mana evaluasi akademik harus berfokus pada kedalaman proses berpikir mahasiswa alih-alih hanya terpaku pada hasil akhir yang kerap dipermudah oleh teknologi AI.

Menanggapi tantangan tersebut, Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemendiktisaintek, Fauzan Adziman, menegaskan komitmen pemerintah dalam menghadapi disrupsi pasar kerja. Meskipun AI berpotensi menggeser model pekerjaan konvensional, pemerintah optimistis akan munculnya berbagai profesi baru yang memerlukan kompetensi adaptif. Transformasi pendidikan, termasuk implementasi microcredential berbasis AI, dipersiapkan sebagai jembatan strategis bagi tenaga kerja nasional.

Saat ini, pemerintah melalui kolaborasi dengan BRIN dan lintas kementerian telah menyusun peta jalan nasional pemanfaatan AI. Inovasi ini ditargetkan menyentuh sektor-sektor vital, mulai dari efisiensi diagnostik di bidang kesehatan, pengembangan sistem transportasi otonom, hingga pengoptimalan produktivitas di sektor energi dan pertanian nasional.