Suasana duka menyelimuti kompleks Grand Mosalla, Teheran, saat peti jenazah Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Khamenei, dihadirkan dalam rangkaian upacara pra-pemakaman. Dalam prosesi yang sarat akan nuansa keagamaan tersebut, para pelayat yang didominasi pakaian serba hitam tampak tak kuasa menahan air mata, sembari melantunkan slogan-slogan religius sebagai bentuk penghormatan terakhir.
Peti jenazah yang diselimuti bendera kebangsaan Iran itu ditempatkan di tengah latar dekorasi bunga merah dan ornamen kupu-kupu putih di dalam Masjid Agung Imam Khomeini. Berdasarkan laporan media lokal, sesi awal ini dikhususkan bagi keluarga anggota angkatan bersenjata serta staf kantor kepemimpinan, sebelum nantinya rangkaian prosesi dibuka untuk masyarakat umum pada Sabtu (4/7).
Pemerintah Iran menaruh harapan besar pada agenda nasional ini untuk memulihkan persatuan di tengah situasi negara yang rapuh. Wali Kota Teheran, Alireza Zakani, bahkan mengklaim bahwa rangkaian acara yang akan berlangsung selama enam hari ini diproyeksikan sebagai perkumpulan publik terbesar dalam sejarah ibu kota.
Ayatollah Khamenei wafat pada usia 86 tahun setelah kediaman pribadinya di pusat Teheran menjadi sasaran serangan rudal pada akhir Februari lalu. Penyelenggaraan seremoni penghormatan ini sempat tertunda cukup lama akibat eskalasi konflik militer, hingga akhirnya otoritas setempat memutuskan melaksanakannya menyusul kesepakatan gencatan senjata baru-baru ini.