Pemerintah Indonesia tengah melakukan pergeseran paradigma dalam memandang sektor olahraga. Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) RI, Erick Thohir, menegaskan bahwa olahraga kini tidak boleh lagi dikategorikan sebagai beban anggaran, melainkan harus dioptimalkan sebagai salah satu sumber pendapatan negara yang signifikan.
Pernyataan tersebut disampaikan Erick dalam konferensi pers bersama Kepala Badan Komunikasi (Bakom) RI, Muhammad Qodari, di Jakarta pada Kamis (2/7/2026). Kebijakan ini merupakan arahan strategis Presiden Prabowo Subianto untuk menyelaraskan pola pikir para pemangku kepentingan agar lebih fokus pada potensi ekonomi sektor olahraga.
Erick menyoroti besarnya peluang dari sport tourism yang secara global mampu menyumbang pendapatan hingga USD625 miliar atau setara Rp9.800 triliun per tahun. Dengan target pertumbuhan ekonomi nasional yang ambisius, Menpora memandang industri ini sebagai katalisator krusial. Selain itu, industri olahraga dunia yang diproyeksikan tumbuh 25 persen hingga 2032 menjadi alasan kuat bagi Indonesia untuk melakukan industrialisasi di bidang ini.
Dampak ekonomi dari berbagai ajang olahraga pun telah terbukti nyata. Erick mencontohkan keberhasilan sejumlah event lari nasional dan ajang internasional seperti MotoGP Mandalika yang mampu menghasilkan multiplier effect. Aktivitas tersebut terbukti mendongkrak tingkat okupansi hotel, sektor kuliner, hingga pemberdayaan brand lokal dalam industri perlengkapan olahraga.
Selain potensi ekonomi, Kemenpora juga memaparkan peta jalan program prioritas untuk masa depan olahraga tanah air. Beberapa poin utama mencakup reformasi sistem pembinaan atlet jangka panjang, penyusunan dana pensiun bagi atlet berprestasi, penyederhanaan regulasi, hingga peningkatan dukungan bagi atlet disabilitas agar mampu berprestasi lebih kompetitif.