Meta Platforms, perusahaan induk Facebook dan Instagram, dilaporkan tengah merancang strategi untuk terjun ke pasar komputasi awan global. Langkah ini diproyeksikan sebagai upaya strategis perusahaan dalam mengomersialkan infrastruktur kecerdasan buatan (AI) yang selama ini telah dibangun dengan investasi bernilai fantastis.
Melalui unit bisnis yang dijuluki sebagai 'Meta Compute', perusahaan berencana untuk menyewakan daya komputasi serta memberikan akses ke model AI eksklusif mereka kepada pihak eksternal. Model bisnis ini nantinya akan menempatkan Meta sebagai kompetitor langsung bagi para raksasa teknologi seperti Amazon Web Services (AWS), Microsoft Azure, dan Google Cloud yang telah mendominasi sektor tersebut selama bertahun-tahun.
Langkah Meta ini didorong oleh kebutuhan untuk memulihkan sebagian dana dari belanja modal masif yang telah dikeluarkan perusahaan untuk pengadaan chip AI, pembangunan pusat data, dan pengembangan infrastruktur pendukung lainnya. Di tengah tingginya permintaan pasar akan daya komputasi berperforma tinggi, Meta melihat celah untuk menjual sumber daya mentah maupun akses model AI serupa dengan layanan 'Bedrock' milik AWS kepada para pengembang.
Meskipun pihak manajemen belum memberikan komentar resmi, inisiatif ini dipimpin oleh jajaran eksekutif senior seperti Santosh Janardhan, Daniel Gross, dan Dina Powell McCormick. Kehadiran Meta di sektor ini diprediksi akan mengubah peta persaingan teknologi, mengingat sektor komputasi awan global diproyeksikan akan terus tumbuh signifikan dengan tingkat CAGR mencapai 14,95% hingga tahun 2034.
Selain Meta, tren serupa juga mulai terlihat di industri teknologi lain, termasuk xAI milik Elon Musk yang telah mulai menyewakan infrastruktur pusat datanya kepada pihak ketiga. Dengan skala investasi yang terus membengkak, efisiensi melalui monetisasi infrastruktur menjadi kunci utama bagi perusahaan teknologi untuk mempertahankan profitabilitas di era dominasi kecerdasan buatan.