Bank sentral Amerika Serikat, The Fed, diprediksi akan mempertahankan sikap hawkish-nya meskipun terdapat indikasi perlambatan pada sektor ketenagakerjaan. Data sektor swasta yang dirilis oleh ADP menunjukkan pertumbuhan tenaga kerja hanya mencapai 98 ribu pada Juni 2026, angka yang berada di bawah ekspektasi pasar sebesar 113 ribu. Tren serupa diprediksi terjadi pada laporan non-farm payroll yang dijadwalkan rilis dalam waktu dekat.
Ketua The Fed, Kevin Warsh, menyatakan bahwa meski risiko inflasi mulai menunjukkan tanda-tanda penurunan, inflasi saat ini yang berada di level 4,2% masih jauh dari target jangka panjang bank sentral sebesar 2%. Warsh menegaskan komitmennya untuk menjaga independensi institusi di tengah tekanan politik, serta memilih untuk tidak memberikan arahan kebijakan (forward guidance) yang kaku guna membiarkan mekanisme pasar bekerja lebih alami.
Di sisi lain, pasar keuangan menunjukkan ketidakpastian yang tercermin dari CME FedWatch Tool. Probabilitas kenaikan suku bunga hingga akhir tahun 2026 tercatat meningkat menjadi 83%. Fenomena ini menarik perhatian investor domestik karena kebijakan suku bunga AS secara langsung berpengaruh terhadap nilai tukar rupiah dan prospek investasi di pasar modal Indonesia.
Para pelaku pasar kini disarankan untuk tetap waspada dalam menentukan strategi perdagangan. Analis menyarankan pentingnya memvalidasi sinyal pembalikan arah (reversal) melalui kombinasi indikator teknikal seperti Moving Average (MA), RSI, serta volume transaksi. Dengan volatilitas pasar yang tinggi, disiplin dalam menerapkan batas toleransi risiko menjadi kunci krusial bagi investor sebelum mengambil keputusan investasi di tengah dinamika makroekonomi global yang belum stabil.