Kegiatan fisik di luar ruang kerja kini menjadi cara unik bagi para Penyuluh Agama Islam Kantor Urusan Agama (KUA) Jatilawang, Kabupaten Banyumas, dalam membangun sinergi. Melalui sesi futsal rutin yang digelar di GOR Orion, Purwokerto, para anggota Pimpinan Daerah Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (PD IPARI) Banyumas membuktikan bahwa profesionalisme dapat ditingkatkan di luar meja rapat.

Rais Rudiansyah, salah satu penyuluh agama yang hadir, menekankan bahwa olahraga bukan sekadar ajang menjaga kebugaran jasmani. Baginya, aktivitas ini merupakan sarana krusial untuk meleburkan sekat jabatan dan wilayah kerja, menciptakan ruang komunikasi yang lebih cair, serta menumbuhkan ikatan persaudaraan yang solid antar sesama rekan sejawat.

Lebih dari sekadar permainan bola, di atas lapangan hijau tersebut tersirat nilai-nilai fundamental mengenai kerja sama tim dan saling percaya. Setiap operan dan pergerakan pemain menjadi metafora bagi pola kolaborasi yang harus diterapkan dalam melayani umat. Kualitas pelayanan yang sabar, empati, dan ramah dinilai sangat bergantung pada kondisi fisik serta kesehatan mental penyuluh yang terjaga dengan baik.

Kegiatan ini menjadi momentum bagi para penyuluh untuk berbagi inspirasi dan pengalaman lapangan dalam suasana yang lebih santai. Dengan mempererat ukhuwah melalui olahraga, diharapkan para penyuluh agama di Banyumas memiliki bekal stamina dan semangat yang lebih tangguh saat menjalankan tugas pendampingan masyarakat di lapangan.

Di akhir sesi, peluh yang menetes dimaknai sebagai simbol dedikasi. Para penyuluh agama berkomitmen bahwa kesehatan adalah investasi jangka panjang agar mereka tetap mampu hadir di tengah masyarakat dengan jiwa yang prima, pikiran jernih, dan pengabdian yang penuh ketulusan.