Bank sentral di berbagai belahan dunia tampak semakin mempererat posisinya terhadap emas sebagai aset moneter utama. Langkah ini mencerminkan strategi adaptasi lembaga keuangan resmi dalam menghadapi lanskap sistem keuangan global yang kian terfragmentasi.
Berdasarkan riset terbaru yang diterbitkan oleh Official Monetary and Financial Institutions Forum (OMFIF) dalam laporan Global Public Investor 2026, emas kini menempati posisi krusial dalam portofolio cadangan devisa negara-negara. Logam mulia ini dipandang sebagai instrumen perlindungan yang paling mumpuni di tengah meningkatnya tensi geopolitik global.
Laporan tersebut juga menyoroti bahwa kekhawatiran mengenai beban utang negara yang kian membengkak, serta transisi menuju sistem moneter dunia yang lebih multipolar, menjadi pendorong utama aksi beli oleh bank sentral. Emas dianggap mampu memberikan stabilitas di tengah fluktuasi ekonomi yang tidak menentu, menjadikannya pilihan aset paling aman dalam satu tahun ke depan.