Implementasi teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kini dipandang sebagai instrumen krusial bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk mendongkrak produktivitas serta daya saing di tengah pasar yang kian kompetitif. OECD mencatat bahwa adopsi AI mampu membuka peluang luas, mulai dari efisiensi operasional hingga inovasi produk yang lebih relevan dengan kebutuhan konsumen.
Kendati manfaatnya terbukti nyata, realita di lapangan menunjukkan bahwa laju adopsi teknologi ini di tingkat UMKM masih tertinggal dibandingkan perusahaan berskala besar. Kesenjangan ini dipicu oleh berbagai kendala fundamental, meliputi keterbatasan akses pembiayaan, minimnya infrastruktur digital, hingga ketidaksiapan organisasi dalam melakukan transisi teknologi secara menyeluruh.
Founder & Chairperson KUMPUL Impact, Faye Wongso, menegaskan bahwa transformasi digital tidak dapat berdiri sendiri. Menurutnya, pertumbuhan usaha yang berkelanjutan membutuhkan integrasi sistem yang solid, yang menghubungkan pembiayaan, pasar, teknologi, serta rantai pasok. Data internal KUMPUL Impact mencatat ironi di mana kurang dari 1% tenaga kerja di Indonesia memiliki literasi digital tingkat lanjut, sementara 50% sisanya masih berada di level dasar hingga menengah.
Guna menutup celah digital tersebut, berbagai inisiatif strategis telah dijalankan, salah satunya melalui program AI for MSME Advancement in ASEAN (AIM ASEAN). Melalui kolaborasi antara KUMPUL Impact, ASEAN Foundation, dan AI Ignition Indonesia, ribuan pelaku UMKM di lebih dari 20 kota di Tanah Air dibekali pelatihan intensif terkait pemanfaatan AI untuk kebutuhan bisnis praktis.
Selain fokus pada literasi teknologi, upaya penguatan ekosistem juga dilakukan melalui program pendampingan akses pasar dan permodalan, seperti kolaborasi dengan UN Women dan PT Permodalan Nasional Madani (PNM). Dengan sinergi yang komprehensif, adopsi AI diharapkan tidak hanya menjadi tren sesaat, melainkan fondasi kokoh untuk memperkuat efisiensi dan resiliensi sektor UMKM di Indonesia.