Kota Probolinggo mencatat angka inflasi sebesar 0,18 persen secara bulanan (month-to-month) pada Juni 2026. Meskipun mengalami kenaikan dibandingkan bulan sebelumnya, laju inflasi daerah ini dinilai masih berada dalam koridor target nasional yang ditetapkan, yakni 2,5 plus minus 1 persen.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Malang, Indra Kuspriyadi, menjelaskan bahwa secara tahunan (year-on-year), inflasi Kota Probolinggo berada di level 2,92 persen. Capaian ini menunjukkan posisi yang lebih stabil dibandingkan dengan inflasi Provinsi Jawa Timur yang menyentuh angka 3,36 persen maupun inflasi nasional sebesar 3,34 persen.
Peningkatan harga pada kelompok transportasi menjadi penyumbang terbesar inflasi bulanan dengan andil sebesar 0,10 persen. Faktor utamanya adalah kenaikan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax dan Pertamax Turbo yang mulai diterapkan sejak 10 Juni 2026. Selain itu, tekanan inflasi turut dipengaruhi oleh kenaikan harga komoditas pangan seperti bawang putih, beras, bawang merah, dan daging sapi.
Di sisi lain, tekanan inflasi berhasil diredam oleh adanya deflasi pada sejumlah komoditas, di antaranya daging ayam ras, emas perhiasan, serta beberapa jenis sayuran seperti cabai rawit dan tomat. Penurunan harga ini dipicu oleh kecukupan pasokan di pasar serta adanya penyesuaian harga emas global yang berdampak langsung pada pasar domestik.
Guna menjaga stabilitas harga, Pemerintah Kota Probolinggo bersama Bank Indonesia dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus mengoptimalkan strategi 4K—yakni Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif. Langkah nyata yang telah dilakukan meliputi penyelenggaraan Gerakan Pangan Murah (GPM) serta pengoperasian Toko Pengendali Inflasi Harga (Kopi Siaga).
Berkat sinergi yang konsisten dalam mengelola harga bahan pokok, Pemerintah Kota Probolinggo bahkan berhasil memperoleh apresiasi sebagai Pemerintah Daerah Berprestasi Kategori Pengendalian Inflasi Terbaik III Nasional untuk wilayah Jawa-Bali.