Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI tengah mengintensifkan upaya mitigasi krisis kesehatan sebagai langkah preventif menghadapi fenomena El Nino yang diprediksi akan berdampak signifikan sepanjang musim kemarau 2026. Fenomena iklim global yang ditandai dengan peningkatan suhu permukaan laut ini membawa ancaman nyata bagi kesehatan masyarakat, mulai dari kelangkaan air bersih hingga risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di berbagai wilayah Indonesia.
Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes, Agus Jamaludin, dalam webinar kesiapsiagaan nasional menjelaskan bahwa perubahan iklim ini memengaruhi pola penyebaran penyakit sensitif iklim. Suhu yang lebih panas secara drastis mempercepat siklus hidup vektor pembawa penyakit seperti malaria dan demam berdarah dengue (DBD). Selain itu, penurunan kualitas udara dan terbatasnya akses air bersih berisiko memicu lonjakan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), pneumonia, hingga diare.
Wilayah yang menjadi titik rawan karhutla seperti Sumatra bagian selatan dan Kalimantan menjadi fokus perhatian utama dalam pemetaan risiko tahun ini. Kemenkes menekankan pentingnya respons kolektif di tingkat daerah untuk mengantisipasi potensi kekeringan yang meluas di Pulau Jawa. Pemerintah daerah dan layanan kesehatan setempat didorong untuk meningkatkan kapasitas dan kesiapsiagaan fasilitas penanganan darurat guna meminimalisir dampak kesehatan pada masyarakat.
Sebagai langkah promotif, pemerintah mengimbau masyarakat agar lebih disiplin menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Masyarakat diminta untuk tetap terhidrasi dengan baik, menggunakan alat pelindung diri seperti masker saat kualitas udara menurun, serta melakukan gerakan 3M Plus untuk menekan populasi nyamuk. Partisipasi aktif warga dalam menjaga lingkungan dan kesehatan diri dinilai menjadi kunci utama dalam meredam kerentanan terhadap dampak buruk El Nino 2026–2027.