Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI tengah menginisiasi pengembangan inovasi terapi farmakologis untuk menangani obesitas secara lebih efektif. Langkah ini diambil sebagai upaya pelengkap di samping metode konvensional seperti pengaturan pola makan mandiri maupun operasi bariatrik, mengingat obesitas kini telah menjadi pemicu utama berbagai komplikasi penyakit mematikan di Indonesia.
Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono, menegaskan bahwa pola pikir masyarakat mengenai obesitas harus segera bergeser. Obesitas tidak lagi sekadar dipandang sebagai masalah penampilan atau estetika, melainkan penyakit kronis yang menjadi pintu gerbang bagi munculnya diabetes melitus tipe 2. Berdasarkan data Program Cek Kesehatan Gratis, obesitas konsisten menempati daftar lima besar masalah kesehatan nasional.
Dante menambahkan bahwa tantangan utama terletak pada efektivitas metode penanganan saat ini. Data klinis menunjukkan tingkat keberhasilan diet mandiri jangka panjang hanya mencapai lima persen. Di sisi lain, tindakan bedah bariatrik masih memiliki keterbatasan, baik dari segi biaya maupun indikasi medis yang ketat. Kemenkes melihat adanya celah besar yang memerlukan intervensi medis melalui obat-obatan inovatif.
Menanggapi isu tersebut, Spesialis Endokrinologi dari Persatuan Endokrinologi Indonesia (PERKENI), Prof. Em Yunir, menyoroti efektivitas zat tirzepatide sebagai inovasi medis baru. Zat ini bekerja dengan meniru hormon alami tubuh untuk meregulasi pusat rasa lapar di otak. Dengan mekanisme ini, pasien dapat mengontrol asupan kalori secara lebih efisien sekaligus membantu perbaikan profil kolesterol dan tekanan darah.
Meski inovasi teknologi medis terus dikembangkan untuk menjembatani penanganan obesitas, para ahli tetap menekankan bahwa gaya hidup sehat tetap menjadi fondasi utama. Olahraga rutin dan pola makan seimbang merupakan langkah preventif mendasar yang tidak dapat digantikan sepenuhnya oleh pengobatan, guna memitigasi risiko diabetes dan penyakit degeneratif lainnya di masa depan.