Langkah tim nasional Brasil di Piala Dunia 2026 harus terhenti lebih awal setelah menelan kekalahan pahit dari Norwegia di Stadion MetLife. Hasil mengejutkan ini memicu gelombang kritik tajam terhadap pelatih Carlo Ancelotti, terutama terkait keputusan strategisnya dalam menentukan eksekutor tendangan penalti yang dianggap gagal.
Dalam konferensi pers pasca-pertandingan, Ancelotti menegaskan bahwa keputusan menunjuk Bruno Guimarães sebagai eksekutor bukan merupakan tindakan spontan. Ia mengklaim kebijakan tersebut diambil berdasarkan akumulasi data dan analisis statistik performa pemain yang telah dikumpulkan tim pelatih selama satu tahun penuh. Menurutnya, Guimarães dianggap sebagai pilihan paling ideal yang tersisa di lapangan saat itu.
Menanggapi jalannya pertandingan, pelatih asal Italia tersebut mengakui dominasi timnya selama 70 menit awal. Namun, ia tak menampik bahwa ketajaman Erling Haaland menjadi pembeda mutlak bagi Norwegia. Ancelotti juga menjelaskan bahwa absennya strategi tekanan tinggi (high pressing) sengaja diterapkan untuk mengantisipasi kecepatan Haaland dan pergerakan taktis Martin Ødegaard yang dinilai berisiko tinggi jika tim bermain terlalu terbuka.
Meski mengakui adanya kesedihan mendalam di ruang ganti, Ancelotti menolak jika kekalahan ini disebut sebagai akhir dari sebuah era. Ia justru memandang fase ini sebagai babak baru bagi Selecao. Sang pelatih kini mengalihkan fokusnya untuk membangun kembali fondasi tim dengan mengintegrasikan talenta muda yang lebih segar, terutama untuk memperkuat sektor lini tengah yang dirasa masih memerlukan regenerasi pasca-era Casemiro.
Menutup pernyataannya, Ancelotti menegaskan komitmennya untuk tetap bekerja keras di tengah tekanan publik. Ia berkomitmen untuk segera mengevaluasi performa skuad guna mencari solusi taktis yang lebih efektif, sembari memastikan bahwa masa depan tim nasional Brasil tetap memiliki masa depan yang cerah dengan kombinasi pemain berpengalaman dan wajah-wajah baru yang potensial.