Pemerintah bersama Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat mulai merancang arah strategis penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) XXII yang akan berlangsung di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Nusa Tenggara Barat (NTB) pada tahun 2028. Ajang ini tidak lagi sekadar pesta olahraga empat tahunan, melainkan instrumen vital dalam pembinaan atlet jangka panjang guna mendukung ambisi Indonesia menembus lima besar pada Olimpiade 2044.
Dalam Rapat Koordinasi yang dipimpin oleh Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir, ditekankan bahwa penyelenggaraan ini berlandaskan pada Asta Cita ke-4 Presiden Prabowo Subianto. Ketua Umum KONI Pusat, Marciano Norman, menyatakan bahwa pemilihan cabang olahraga yang akan dipertandingkan akan disinkronkan dengan kebutuhan Desain Besar Olahraga Nasional (DBON), dengan fokus pada cabang-cabang Olimpiade dan potensi unggulan daerah.
Selain aspek teknis kompetisi, pemerintah menekankan pentingnya efisiensi fiskal. Pendanaan penyelenggaraan PON 2028 diarahkan untuk bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) guna meminimalisir ketergantungan pada anggaran pusat. Untuk memfasilitasi percepatan pembangunan dan renovasi infrastruktur, pemerintah telah menyerahkan Surat Keputusan (SK) sebagai landasan hukum bagi pemerintah daerah di NTT dan NTB.
Menpora Erick Thohir berkomitmen memastikan tata kelola yang transparan dan akuntabel dengan membentuk tim koordinasi lintas sektor. Tim ini melibatkan BPKP, Kejaksaan Agung, serta dukungan dari TNI dan Polri untuk mengawal seluruh tahapan, mulai dari penggunaan anggaran hingga pembangunan fasilitas. Keterlibatan lembaga pengawas sejak dini dilakukan sebagai upaya preventif untuk menjamin seluruh proses berjalan sesuai prinsip tata kelola pemerintahan yang baik.
PON XXII 2028 diharapkan menjadi standar baru bagi ajang olahraga nasional yang efektif dan efisien di bawah era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Lebih jauh, fasilitas olahraga yang dibangun diproyeksikan tidak hanya berhenti sebagai aset turnamen, tetapi dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh masyarakat sebagai pusat pengembangan sumber daya manusia di bidang olahraga.