Di tengah sengitnya kompetisi pasar saat ini, strategi bisnis konvensional yang hanya bertumpu pada kualitas produk dan efisiensi harga dirasa mulai kehilangan tajinya. Para pelaku usaha kini dituntut untuk mampu menyentuh sisi psikologis konsumen melalui pendekatan yang lebih personal dan identitas visual yang ikonik.

Tren pemanfaatan Intellectual Property (IP) karakter kini menjadi primadona baru bagi berbagai sektor industri, mulai dari kuliner hingga ritel gaya hidup. Bukan sekadar berfungsi sebagai maskot pemanis di media promosi, karakter-karakter tersebut kini dikembangkan menjadi aset strategis yang memiliki napas dan narasi unik di dalamnya.

Kafi Kurnia, seorang pengamat bisnis dari Peka Consult, Inc., menjelaskan bahwa efektivitas karakter sebagai identitas merek terletak pada kemampuannya untuk menyiratkan persona perusahaan. Namun, ia menekankan bahwa tantangan sesungguhnya terletak pada keberlanjutan. Karakter harus dirancang dengan fleksibilitas tinggi agar relevan dengan tren masa depan, bukan sekadar simbol yang statis.

Sejalan dengan perkembangan tersebut, beberapa entitas bisnis mulai mengadopsi konsep 'semesta merek'. Salah satunya adalah jenama donat Butter Baby yang berupaya membangun kedekatan audiens melalui penuturan cerita (storytelling) mendalam tentang dunia fiktif 'Butterlandia'. Melalui film animasi pendek, mereka berhasil memikat audiens agar tidak hanya terpaku pada cita rasa donat, melainkan juga terpikat pada ekosistem karakter yang dibangun.

Di sisi lain, sektor kerajinan lokal seperti Jinjit Pottery juga turut mengoptimalkan penggunaan ilustrasi kucing sebagai identitas visual yang kuat. Upaya ini menjadi bukti bahwa karakter, baik yang fiktif maupun yang terinspirasi dari kehidupan nyata, memiliki potensi besar untuk dikonversi menjadi IP bernilai tinggi, seperti merchandise eksklusif atau art toys, yang pada akhirnya dapat memperkuat ekosistem bisnis dan loyalitas pelanggan secara jangka panjang.