Harga emas dunia menunjukkan tren penguatan setelah sempat tertekan selama dua hari berturut-turut. Pada penutupan perdagangan Rabu (1/7/2026), harga logam mulia tersebut berada di posisi US$ 4.029,58 per troy ons, menguat sebesar 0,56%. Tren positif ini berlanjut pada Kamis pagi (2/7/2026), dengan harga emas sempat menyentuh angka US$ 4.043,15 per troy ons.
Pemulihan harga ini dipicu oleh rilis data tenaga kerja sektor swasta Amerika Serikat versi ADP yang menunjukkan penambahan 98.000 lapangan kerja pada Juni, angka yang berada di bawah ekspektasi pasar sebesar 118.000. Selain itu, pernyataan Ketua Federal Reserve, Kevin Warsh, yang mengindikasikan bahwa risiko inflasi mulai melandai, turut memberikan sentimen positif bagi pasar komoditas.
Analis independen Tai Wong menjelaskan bahwa penurunan imbal hasil obligasi akibat sinyal inflasi yang mereda menjadi katalis utama bagi kenaikan harga emas. Meskipun emas sempat mencatatkan kinerja kuartalan terburuk dalam 13 tahun terakhir hingga Juni 2026, kondisi terkini memberikan optimisme bahwa harga logam mulia tersebut telah mencapai titik dasar jangka pendeknya.
Meski demikian, pelaku pasar tetap memantau rilis data nonfarm payrolls yang akan menjadi acuan lebih lanjut bagi kebijakan moneter The Fed. Saat ini, terdapat peluang sebesar 65% di pasar yang memprediksi kenaikan suku bunga pada September mendatang. Di sisi lain, dinamika geopolitik terkait pembicaraan teknis antara Amerika Serikat dan Iran mengenai keamanan Selat Hormuz juga turut membayangi pergerakan pasar global.
Sejalan dengan emas, harga perak juga mencatatkan penguatan. Komoditas logam putih ini ditutup naik 0,96% ke posisi US$ 59,14 per troy ons pada Rabu lalu, dan menunjukkan stabilitas pertumbuhan pada sesi perdagangan Kamis pagi.