Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) secara resmi mengeluarkan peringatan dini terkait ancaman fenomena El Nino yang diprediksi mencapai intensitas kuat pada tahun 2026. Fenomena iklim ini diperkirakan berlangsung selama sembilan hingga 12 bulan dan membawa konsekuensi serius terhadap stabilitas lingkungan serta ekonomi nasional.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengungkapkan bahwa berdasarkan data pemantauan terkini, probabilitas El Nino mencapai kategori kuat berada pada angka 98%. Pihaknya menekankan bahwa tantangan utama bukan terletak pada durasi fenomena tersebut, melainkan adanya irisan waktu antara El Nino dengan periode puncak musim kemarau di Indonesia.

"Kondisi paling kritis terjadi saat El Nino bertepatan dengan musim kemarau. Pada periode tersebut, curah hujan akan jauh berada di bawah rata-rata normal, sehingga kesiapsiagaan di berbagai sektor harus segera ditingkatkan," jelas Faisal di Jakarta, Kamis (2/7/2026).

Berdasarkan pemetaan BMKG, penurunan curah hujan yang signifikan diprediksi terjadi mulai Juli hingga Oktober 2026. Dampak ini terutama akan dirasakan oleh wilayah-wilayah yang berada di selatan garis khatulistiwa, mencakup Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian wilayah Sumatera bagian selatan, Kalimantan bagian selatan, hingga wilayah Sulawesi dan Papua bagian selatan.

Kondisi ini memicu kekhawatiran luas terhadap potensi kekeringan, meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta gangguan nyata pada sektor pertanian. Defisit air yang berkepanjangan berpotensi menghambat pertumbuhan tanaman pangan, menurunkan tingkat produktivitas hasil panen, hingga risiko puso yang pada akhirnya dapat memicu tekanan terhadap inflasi daerah akibat terganggunya rantai pasok pangan.