Industri hiburan global, khususnya di China, tengah menghadapi gelombang disrupsi besar akibat pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI). Fenomena ini dirasakan langsung oleh Xu Peng, seorang aktor yang sebelumnya dikenal luas melalui peran-peran ikoniknya sebagai CEO arogan dalam berbagai produksi drama pendek.
Sebelum terjun ke dunia drama pendek, Xu Peng memiliki latar belakang pendidikan akting yang mumpuni sebagai lulusan Akademi Drama Pusat. Kariernya sempat meroket tajam di tahun 2025, di mana ia mampu menjalani jadwal syuting padat hingga 16 jam sehari. Namun, dominasi AI dalam waktu singkat telah memutarbalikkan nasib kariernya.
Data menunjukkan bahwa pada kuartal pertama tahun 2026, mayoritas produksi drama pendek di China telah diambil alih oleh teknologi AI. Dari sekitar 128.000 judul drama yang dirilis, sebanyak 122.000 di antaranya merupakan hasil kreasi otomatis AI. Kondisi ini membuat para aktor manusia kehilangan panggung utama mereka secara drastis.
Menghadapi kenyataan pahit tersebut, Xu Peng memilih untuk meninggalkan Hengdian, pusat industri film China, dan kembali ke tanah kelahirannya di Shandong. Pria berusia 30 tahun itu kini menjalani kehidupan yang jauh dari hingar-bingar lampu sorot, dengan membantu kakeknya berdagang sayuran di pasar lokal setiap harinya.
Meski keputusan ini mengejutkan banyak pihak, Xu Peng tetap bersikap bijak dan rendah hati. Ia menegaskan bahwa akting hanyalah sebuah profesi, dan ia tidak merasa terhina dengan beralih ke pekerjaan kasar selama penghasilannya diperoleh secara jujur. Baginya, perubahan ini hanyalah transisi panggung hidup, sementara jati dirinya tetap tidak berubah.