Langkah Presiden Joko Widodo yang mulai melakukan safari politik bersama Partai Solidaritas Indonesia (PSI) sejak Jumat (26/06/2026) memicu beragam respons dari kalangan pengamat. Banyak pihak menilai kedekatan ini merupakan strategi Jokowi dalam mengamankan posisi politiknya melalui partai yang dianggap memiliki keterikatan personal yang kuat dengan keluarganya.

Direktur Eksekutif Triaspols, Agung Baskoro, menilai bahwa PSI menjadi pilihan strategis karena partai tersebut belum memiliki tokoh sentral dengan pengaruh yang dominan. Kehadiran Jokowi, yang memiliki basis massa besar sejak Pemilu 2014 dan 2019, diharapkan mampu menjadi katalisator bagi pertumbuhan PSI. Dalam pandangan Agung, kedua belah pihak saling membutuhkan: PSI memerlukan sosok berdaya tawar tinggi untuk berkembang, sementara Jokowi mencari wadah untuk menjaga pengaruh politiknya.

Di sisi lain, Senior Research dari Paramadina Public Policy Institute, Wahyutama, melihat faktor kendali sebagai alasan utama. Menurutnya, posisi Kaesang Pangarep sebagai Ketua Umum PSI menjadikan partai tersebut sebagai entitas yang paling mudah dikelola dan dipercaya oleh Jokowi dibandingkan partai politik besar lainnya.

Dalam lanskap politik nasional yang semakin kompleks dan penuh ketidakpastian, kepercayaan menjadi mata uang yang sangat berharga. Wahyutama menambahkan bahwa sulit bagi mantan presiden untuk menaruh loyalitas penuh pada partai yang tidak berada di bawah pengaruh langsung lingkaran keluarganya, sehingga menjadikan PSI sebagai pilihan paling rasional bagi Jokowi saat ini.