Penyakit tuberkulosis (Tb) kerap kali disalahartikan sebagai infeksi saluran pernapasan biasa. Padahal, mengenali gejala awal secara dini sangat krusial guna mendapatkan penanganan medis yang tepat sebelum kondisi penderita memburuk.
Dokter spesialis anak subspesialis respirologi dari RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Nastiti Kaswandani, menjelaskan bahwa pada orang dewasa, batuk yang menetap selama dua pekan atau lebih menjadi indikator paling utama. Berbeda dengan batuk akibat flu atau ISPA yang umumnya pulih dalam waktu singkat, batuk pada penderita Tb bersifat persisten dan tidak kunjung membaik.
Selain batuk, penderita Tb sering menunjukkan gejala sistemik seperti demam yang tidak terlalu tinggi namun berlangsung berkepanjangan. Kondisi ini menuntut masyarakat untuk lebih peka terhadap perubahan kesehatan tubuh yang tidak segera membaik dalam kurun waktu dua minggu.
Khusus pada anak-anak, pendeteksian gejala memerlukan ketelitian ekstra dari orang tua. Fokus utama yang harus diperhatikan adalah adanya penurunan berat badan atau kesulitan kenaikan berat badan pada anak. Selain itu, anak yang terinfeksi Tb biasanya tampak mengalami malaise, yakni kondisi di mana anak kehilangan keceriaan, terlihat lemas, dan kurang aktif dibandingkan biasanya.
Penyakit Tb sendiri dipicu oleh infeksi kuman Mycobacterium tuberculosis yang menular melalui kontak dengan penderita. Penting untuk dipahami bahwa penularan tidak hanya terjadi dari orang dewasa ke orang lain, tetapi juga dapat menular ke anak-anak yang memiliki sistem imun lebih rentan. Bahkan, anak-anak yang telah terkonfirmasi mengidap Tb di saluran pernapasannya pun memiliki potensi untuk menularkan bakteri tersebut kepada orang di sekitarnya.