Bank Dunia baru saja merilis klasifikasi ekonomi terbaru yang menempatkan Vietnam dan Filipina ke dalam kelompok negara berpenghasilan menengah atas. Pencapaian ini sekaligus menambah daftar negara di kawasan ASEAN yang berhasil mencapai status tersebut, bergabung bersama Singapura, Malaysia, dan Thailand.

Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 1 Juli 2026, kedua negara ini berhasil melampaui ambang batas pendapatan nasional bruto per kapita sebesar US$ 4.636. Vietnam mencatatkan angka US$ 4.970, sementara Filipina mencapai US$ 4.850. Peningkatan ini dipandang sebagai bukti nyata transformasi ekonomi yang menyeluruh di berbagai sektor industri.

Keberhasilan Vietnam didorong oleh model ekonomi berbasis ekspor yang agresif serta reformasi iklim investasi yang ramah bisnis. Sebaliknya, meski menghadapi tantangan berat seperti dampak fenomena El Nino dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah, Filipina tetap mampu menjaga pertumbuhan inklusif melalui penguatan fundamental ekonomi nasional.

Kendati demikian, kenaikan status ini membawa implikasi bagi akses pendanaan pembangunan. Sebagai negara menengah atas, kedua negara kini harus lebih mandiri dalam pembiayaan fiskal karena akses terhadap pinjaman dengan bunga lunak atau di bawah harga pasar akan semakin terbatas. Para ahli menilai transisi ini merupakan ujian kemandirian ekonomi bagi pemerintah dalam mengelola sumber daya domestik.

Selain Vietnam dan Filipina, Bank Dunia juga mencatat perubahan status pada negara lain seperti Yordania, Mikronesia, dan Sri Lanka yang kini masuk dalam kategori pendapatan menengah atas. Sementara itu, Togo mengalami pergeseran klasifikasi dari negara berpendapatan rendah menjadi menengah ke bawah.