Sulawesi Selatan (Sulsel) selama puluhan tahun telah mengukuhkan posisinya sebagai produsen kopi terkemuka di Indonesia. Meski nama kopi Toraja telah mendunia, tantangan besar kini membayangi daerah tersebut: bagaimana beranjak dari sekadar pengirim biji mentah menjadi pusat industri kopi yang memberikan nilai tambah nyata bagi kesejahteraan petani dan pelaku UMKM lokal.
Untuk merumuskan strategi tersebut, pemerintah, akademisi, dan pelaku bisnis berkumpul dalam diskusi bertajuk “Kebijakan UMKM Berbasis Komoditas, Peluang Investasi Kopi serta Kolaborasi untuk Penguatan Ekonomi Daerah” di Makassar. Pertemuan ini menjadi wadah krusial untuk menyelaraskan kebijakan pemerintah, riset akademis, dan realitas lapangan dalam menghadapi persaingan pasar global yang semakin dinamis.
Plt. Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sulsel, Yunita Ghalib, menekankan pentingnya mengubah paradigma perdagangan kopi. Selama ini, banyak produk kopi asal Sulsel yang terjebak dalam commodity trap, di mana biji kopi dijual dalam bentuk green beans, sementara margin keuntungan terbesar dinikmati oleh industri di luar daerah. Hilirisasi produk, seperti pengembangan kopi siap minum dan produk turunan kreatif, dinilai menjadi kunci utama untuk meningkatkan margin ekonomi di daerah.
Selain hilirisasi, isu penjenamaan atau branding daerah juga menjadi sorotan. Meski dominasi nama kopi Toraja sangat kuat, daerah lain di Sulsel seperti Enrekang, Sinjai, hingga Bantaeng memiliki karakter unik yang layak memiliki identitas sendiri. Pemerintah daerah berkomitmen mendorong origin-based branding yang inklusif agar setiap wilayah penghasil kopi memiliki posisi tawar yang setara di pasar internasional.
Lebih jauh, Prof. Mursalim Nohong dari Universitas Hasanuddin menyoroti pentingnya ekosistem terintegrasi yang melibatkan petani, koperasi, hingga konsep coffee tourism. Sinergi lintas sektor ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kualitas produksi, tetapi juga menjadikan kopi sebagai pengalaman budaya yang memiliki nilai ekonomi tinggi, sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi daerah yang berkelanjutan.
Sebagai langkah konkret, Disperindag Sulsel telah menyiapkan berbagai fasilitas pendukung bagi UMKM, mulai dari pendampingan sertifikasi halal, bantuan pengurusan NIB, hingga subsidi kemasan. Melalui kolaborasi strategis antara pemerintah, akademisi, dan pelaku usaha, Sulsel optimistis dapat mengubah biji kopi menjadi instrumen pembangunan ekonomi yang mampu mengangkat derajat petani dan memperkuat posisi tawar daerah di panggung dunia.