PT Hartadinata Abadi Tbk. (HRTA) tetap mematok target ambisius pendapatan sebesar Rp70 triliun pada tahun 2026. Optimisme ini dipertahankan perseroan di tengah tren pelemahan harga emas global yang telah terkoreksi sebesar 6,70 persen sepanjang tahun berjalan, turun dari level US$4.446 ke kisaran US$4.148,8.

Direktur Investor Relations Hartadinata Abadi, Thendra Crisnanda, memandang fluktuasi harga tersebut sebagai dinamika wajar dalam pasar komoditas. Menurutnya, fundamental permintaan emas di Indonesia masih sangat kuat, didorong oleh tumbuhnya kesadaran masyarakat dalam menabung emas serta perluasan ekosistem bullion domestik.

Thendra menjelaskan bahwa tekanan pada harga emas saat ini dipicu oleh kebijakan moneter global dan penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat, yang dipengaruhi oleh ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga The Fed. Kendati demikian, tingginya akumulasi cadangan emas oleh bank sentral di berbagai negara diyakini akan menjaga stabilitas harga dalam jangka panjang.

Menyikapi kondisi pasar saat ini, manajemen HRTA berkomitmen untuk terus memperkuat tata kelola perusahaan (GCG), manajemen risiko, dan memastikan kepatuhan regulasi di seluruh lini operasional. Langkah strategis ini ditempuh guna menjaga pertumbuhan kinerja yang berkelanjutan.

Sementara itu, Direktur Utama Hartadinata, Sandra Sunanto, menyambut positif fase 'recovery pricing' atau stabilisasi harga emas yang sedang terjadi. Ia menilai kondisi pasar saat ini justru lebih kondusif dibandingkan periode volatilitas ekstrem sebelumnya, karena mampu memicu kembali minat beli masyarakat, baik untuk instrumen investasi emas batangan maupun produk perhiasan.

Melalui strategi tersebut, perseroan tidak hanya membidik pendapatan Rp70 triliun, tetapi juga menargetkan perolehan laba bersih di kisaran Rp1,4 triliun hingga Rp1,5 triliun pada tahun ini. Hingga kini, perseroan fokus pada penguatan rantai pasok untuk memastikan target kinerja tetap tercapai meski di tengah tantangan ekonomi global.