Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas 'Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta meluncurkan inovasi pengolahan limbah organik berbasis teknologi biokonversi larva Black Soldier Fly (BSF). Proyek ini diperkenalkan sebagai bagian dari perayaan Milad ke-35 UNISA, yang mengusung visi besar dalam menciptakan ekosistem kampus hijau berbasis ekonomi sirkular dan pencapaian target Sustainable Development Goals (SDGs).
Sistem ini bekerja dengan memanfaatkan larva BSF (Hermetia illucens) untuk mengurai limbah dapur dari Sentra Produksi Pangan Gizi serta kotoran ternak di lingkungan kampus. Proses biokonversi tersebut secara efektif mereduksi volume sampah organik hingga 80 persen, sembari mengubah limbah menjadi biomassa maggot yang kaya protein. Biomassa ini nantinya digunakan sebagai pakan alternatif bagi unggas, sementara sisa penguraiannya diolah menjadi pupuk organik berkualitas tinggi.
Ketua Tim Inovasi FST UNISA, Arief Bimantara, menegaskan bahwa fasilitas ini dirancang dengan pendekatan sistem closed-loop atau siklus tertutup. Pendekatan ini memungkinkan universitas mengelola limbahnya sendiri secara mandiri, sehingga menekan biaya operasional pembelian pakan sekaligus meminimalisir beban sampah yang dibuang ke lingkungan luar. Menurut Arief, langkah ini merupakan bentuk nyata komitmen institusi dalam mengimplementasikan ilmu pengetahuan sebagai solusi permasalahan lingkungan.
Lebih lanjut, inovasi ini mencakup pembangunan fasilitas terintegrasi yang terdiri dari lima zona utama, mulai dari tahap pemrosesan awal hingga area budidaya lalat BSF. Fasilitas tersebut diproyeksikan tidak hanya sebagai sarana operasional pengolahan sampah, melainkan juga sebagai laboratorium riset bagi sivitas akademika dalam mendalami bidang bioteknologi, manajemen lingkungan, dan rekayasa ekonomi sirkular.
Melalui penerapan teknologi tepat guna ini, UNISA Yogyakarta mempertegas posisinya sebagai perguruan tinggi yang responsif terhadap isu perubahan iklim dan konsumsi yang bertanggung jawab. Diharapkan, keberhasilan model pengelolaan sampah berbasis maggot ini dapat menjadi acuan bagi institusi lain dalam mewujudkan operasional kampus yang mandiri, efisien, dan ramah lingkungan.