Konflik berkepanjangan antara Rusia dan Ukraina mencatatkan angka kemanusiaan yang mencengangkan. Berdasarkan studi terbaru yang dirilis oleh Center for Strategic and International Studies (CSIS) pada Rabu (1/7/2026), jumlah total korban dari kedua belah pihak, yang mencakup personel tewas, luka-luka, maupun hilang, kini telah melampaui ambang batas dua juta jiwa.

Data yang dihimpun CSIS menunjukkan bahwa pasukan Rusia menanggung beban kerugian personel paling berat. Diperkirakan terdapat 1,4 juta korban di pihak Rusia, dengan angka kematian yang menyentuh kisaran 400.000 hingga 450.000 tentara sejak invasi dimulai pada Februari 2022. Angka kematian ini digambarkan secara dramatis sebagai empat kali lipat lebih besar dibandingkan total kerugian jiwa militer Amerika Serikat dalam seluruh konflik bersenjata pasca-Perang Dunia II.

Di sisi lain, pasukan Ukraina dilaporkan menderita antara 525.000 hingga 625.000 korban, dengan estimasi kematian mencapai 125.000 hingga 150.000 personel. CSIS juga menyoroti adanya tren peningkatan rasio kerugian, di mana pada paruh pertama tahun 2026, perbandingan jumlah korban Rusia terhadap Ukraina mencapai 8 banding 1.

Sementara itu, data resmi pemerintah di kedua negara sering kali memiliki perbedaan signifikan dengan laporan analis independen. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky pada Februari 2025 sempat menyatakan bahwa kerugian militer negaranya berada di angka 46.000 tentara, sebuah angka yang oleh banyak pengamat internasional dianggap terlalu rendah. Di Rusia, pemantau independen seperti BBC dan Mediazona telah mengidentifikasi setidaknya 163.000 tentara tewas, meski jumlah riil di lapangan diyakini jauh lebih besar.

Dampak kemanusiaan ini tidak terbatas pada kalangan militer. Laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mencatat eskalasi korban sipil yang signifikan selama tahun 2025. Hingga saat ini, PBB telah memverifikasi sedikitnya 15.000 kematian warga sipil akibat agresi tersebut. Namun, otoritas HAM PBB menegaskan bahwa angka tersebut kemungkinan besar masih di bawah realita yang terjadi di lapangan akibat sulitnya akses verifikasi di zona konflik.