PT Laksana Bus Manufaktur kini tengah memutar strategi di tengah melambatnya permintaan untuk bus antar kota antar provinsi (AKAP), pariwisata, serta kendaraan operasional instansi. Technical Director Laksana, Stefan Arman, mengungkapkan bahwa perusahaan mulai mengalihkan fokus pada ceruk pasar baru, yakni produksi bus untuk kebutuhan industri pertambangan serta pengembangan bus listrik (EV).
Diversifikasi ini menjadi langkah krusial perusahaan untuk tetap relevan di tengah dinamika pasar transportasi nasional. Selain menyesuaikan portofolio produk, Laksana juga secara agresif membidik pasar mancanegara. Saat ini, pangsa ekspor perusahaan masih berada di angka 5% dari total kapasitas produksi, dengan rencana ekspansi yang menyasar Thailand, Asia Selatan, hingga Timor Leste.
Guna merealisasikan target pertumbuhan tersebut, pihak manajemen menekankan pentingnya dukungan kebijakan dari pemerintah. Stefan menyoroti perlunya insentif berupa kemudahan akses pembiayaan serta kepastian regulasi yang berpihak pada industri manufaktur karoseri domestik.
Kepastian hukum dan regulasi dinilai menjadi instrumen vital agar produk karoseri lokal tetap mampu menjaga daya saingnya di tengah persaingan pasar global yang semakin kompetitif. Langkah strategis ini diharapkan dapat memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain kunci dalam industri karoseri sekaligus mengakselerasi transisi menuju ekosistem kendaraan ramah lingkungan.