Tingkat inflasi tahunan di Provinsi Kalimantan Timur mencatatkan tren peningkatan hingga mencapai 3,20% (year on year) pada Juni 2026. Data Bank Indonesia Perwakilan Kaltim menunjukkan inflasi bulanan sebesar 0,70% (month to month) menjadi kontributor utama dalam pergerakan angka inflasi tahun berjalan yang kini berada di level 2,36%.
Kepala Perwakilan BI Kaltim, Jajang Hermawan, menjelaskan bahwa kenaikan inflasi ini didominasi oleh sektor transportasi. Faktor utama yang memicu gejolak harga adalah penyesuaian tarif BBM nonsubsidi serta tingginya permintaan angkutan udara akibat masa libur sekolah yang bertepatan dengan periode tersebut.
Di sisi lain, sektor pangan turut memberikan tekanan inflasi. Gangguan cuaca di wilayah sentra produksi menyebabkan pasokan komoditas strategis seperti beras, bawang merah, dan ikan layang terhambat. Secara geografis, seluruh wilayah di Kaltim mengalami kenaikan harga, dengan Kota Balikpapan mencatatkan inflasi bulanan tertinggi sebesar 0,86%.
Sebagai langkah mitigasi, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) se-Kaltim kini memperketat implementasi strategi 4K yang meliputi Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif. Berbagai intervensi telah dilakukan, mulai dari penyelenggaraan Gerakan Pangan Murah hingga operasi pasar di sejumlah titik strategis seperti Samarinda dan Kutai Kartanegara.
Pemerintah daerah melalui koordinasi rutin bersama Bulog terus memastikan distribusi komoditas tetap terjaga untuk menstabilkan harga. Selain upaya operasional, TPID juga secara aktif mengedukasi masyarakat agar tetap melakukan pola belanja bijak guna menjaga ekspektasi inflasi tetap stabil di tengah tantangan ekonomi yang ada.