Gelombang efisiensi kembali melanda Tokopedia, memicu spekulasi luas di tengah masyarakat mengenai masa depan operasional raksasa marketplace tersebut. Meski manajemen menegaskan bahwa langkah ini dilakukan demi keberlanjutan bisnis jangka panjang, isu mengenai pengurangan tenaga kerja dalam skala besar terus bergulir dan menjadi perhatian serius para pengamat industri digital.
Ketua Umum Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA), Budi Primawan, menyatakan bahwa kebijakan efisiensi merupakan keputusan internal perusahaan yang lazim dilakukan dalam fase transisi bisnis. Menurutnya, industri e-commerce kini telah bergeser dari pengejaran pertumbuhan agresif menuju fokus pada profitabilitas yang sehat. Efisiensi ini dianggap sebagai upaya perusahaan untuk mengalokasikan sumber daya secara lebih efektif tanpa mengorbankan komitmen terhadap pasar.
Senada dengan hal tersebut, Direktur Eksekutif ICT Institute, Heru Sutadi, melihat adanya proses penyesuaian yang kompleks setelah integrasi Tokopedia dengan TikTok Shop. Menurutnya, restrukturisasi berkali-kali ini menjadi sinyal adanya ketidakpastian model bisnis pasca-penggabungan. Selain itu, masifnya penggunaan kecerdasan buatan (AI) di berbagai lini operasional, mulai dari pemasaran hingga layanan pelanggan, dinilai turut mendisrupsi kebutuhan akan tenaga kerja manusia.
Di balik narasi efisiensi tersebut, Tokopedia sendiri sebenarnya telah mencatatkan kinerja keuangan yang impresif dengan membukukan laba bersih Rp600 miliar sepanjang tahun 2025. Namun, hal ini tidak menghentikan langkah ByteDance untuk terus melakukan penyesuaian struktural, terutama setelah akuisisi mayoritas saham Tokopedia. Fokus operasional pun mulai bergeser, termasuk pengurangan skala pada layanan gudang atau fulfillment yang sempat menjadi pilar utama logistik perusahaan.
Menanggapi situasi ini, Heru Sutadi mendesak pemerintah untuk tidak tinggal diam dan segera memfasilitasi dialog dengan para pelaku industri. Dikhawatirkan, jika tidak diantisipasi dengan kebijakan yang tepat, sektor ekonomi digital yang menjadi lokomotif pertumbuhan nasional justru berisiko menjadi penyumbang angka pengangguran baru. Hingga kini, pihak TikTok menegaskan bahwa penyesuaian organisasi yang dilakukan adalah bagian dari strategi untuk menyelaraskan riset dan pengembangan demi mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan bagi seluruh ekosistem di platform mereka.