Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) resmi menambah kekuatan dalam pengembangan olahraga disabilitas nasional dengan melantik 72 tenaga klasifier baru. Kehadiran para tenaga ahli yang telah tersertifikasi ini diharapkan menjadi katalisator bagi pemerataan pembinaan atlet disabilitas di berbagai daerah di Indonesia.

Proses klasifikasi merupakan elemen krusial dalam ekosistem olahraga disabilitas. Tanpa adanya klasifikasi yang tepat, prinsip keadilan dalam kompetisi tidak akan tercapai. Leny Kurnia, Plt Asisten Deputi Tenaga dan Organisasi Keolahragaan Prestasi Kemenpora, menegaskan bahwa tenaga klasifier adalah pondasi utama dalam menciptakan iklim pertandingan yang setara bagi setiap atlet.

Para tenaga klasifier ini dinyatakan lulus setelah menjalani pelatihan intensif yang diselenggarakan oleh Kemenpora dan National Paralympic Committee (NPC) Indonesia di Karanganyar serta Makassar. Sebanyak 72 individu tersebut terpilih dari 77 peserta yang mewakili 28 provinsi, mempertegas komitmen pemerintah untuk menjangkau daerah yang selama ini belum memiliki tenaga klasifikasi tersertifikasi.

Chief Classifier NPC Indonesia, Retno Setianing, menambahkan bahwa pemerataan tenaga klasifikasi ini akan mempermudah identifikasi bakat sejak dini di tingkat daerah. Dengan klasifikasi yang akurat, calon atlet dapat diarahkan ke cabang olahraga yang sesuai dengan potensi mereka sebelum masuk ke tahap pembinaan lebih lanjut.

Langkah strategis ini juga diproyeksikan sebagai persiapan jangka panjang Indonesia menghadapi ajang Paralympic 2028. Dengan adanya klasifier yang tersebar luas, pencarian bibit-bibit atlet unggulan diharapkan menjadi lebih terstruktur dan efisien, sehingga setiap potensi atlet penyandang disabilitas di pelosok negeri dapat terakomodasi dengan baik.