Pemerintah Indonesia resmi meluncurkan program 'Kick-Off Nasional Skrining Tuberkulosis (TB) dan Cek Kesehatan Gratis' di Lapas Kelas IIA Ngaseman, Nusakambangan, Jawa Tengah. Inisiatif strategis ini merupakan bagian dari program prioritas (Quick Win) Presiden RI untuk memastikan seluruh warga binaan mendapatkan hak akses kesehatan yang setara dengan masyarakat umum.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa langkah ini sangat krusial mengingat tingginya prevalensi TB di lingkungan lembaga pemasyarakatan yang mencapai 0,54 persen, angka tersebut melampaui rata-rata nasional sebesar 0,3 persen. Kondisi hunian yang padat menjadi faktor pemicu utama cepatnya penularan, sehingga deteksi dini melalui rontgen dada menjadi instrumen vital dalam memutus mata rantai penyebaran penyakit.

Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Agus Andrianto menyambut positif kolaborasi ini sebagai upaya mendukung target eliminasi TB nasional pada tahun 2030. Pihaknya berkomitmen penuh untuk mengintegrasikan layanan kesehatan di lingkungan pemasyarakatan, termasuk pemenuhan sarana klinik dan alat kesehatan guna mendukung efektivitas pengobatan bagi warga binaan.

Sebagai bentuk dukungan konkret, Kementerian Kesehatan menyalurkan bantuan alat kesehatan senilai Rp2,2 miliar melalui kolaborasi rumah sakit vertikal. Program ini secara bertahap menargetkan 321.449 peserta, yang mencakup warga binaan maupun petugas di 532 unit pemasyarakatan hingga tahun 2026. Pemeriksaan kesehatan mencakup skrining TB, pengukuran tekanan darah, kadar gula, kolesterol, hingga tes HIV.

Dengan adanya pemeriksaan rutin ini, diharapkan warga binaan dapat terjaga kesehatannya dan memiliki kualitas hidup yang baik setelah menjalani masa pidana. Pemerintah berkomitmen memastikan bahwa status warga binaan tidak menghalangi mereka untuk mendapatkan pelayanan medis yang komprehensif demi peningkatan angka harapan hidup masyarakat Indonesia secara merata.